Opening : DALANG DENGAN NYANYIAN PEMBUKA : MUSIK MENGALUN.DI LAYAR ADA SILHOUETE BAYANGAN ATAU PANGGUNG MENUNJUKKAN POTONGAN-POTONGAN ADEGAN SUPER PENDEK.
Babak 1
PERPUSTAKAAN KAMPUS Jali di Jogja.Jali nampak membawa setumpuk buku ke meja, duduk lalu membaca-baca satu persatu. Lalu Anik masuk dan sedikit terkejut tapi seneng.
Jali : Heh, Anik
Anik : (menoleh dan terkaget dengan riang) Hai.., apa kabar? Tumben, baru jam sembilan mas, kok udah bangun, dah sampe perpus segala, tapi kayaknya belum mandi deh.
Jali : (Tersenyum) Kamu cari apa?
Anik : Biasa, bahan skripsi dong..... suruh ganti judul terus..
Jali : (tersenyum, Anik duduk di depan Jali. Matanya memandang sesekali tersenyum menggoda)
Anik : Kok baca di sini, bisanya bawa pulang? Nanti di susul Sasa lagi, lho.
Jali : Yah..Kalopun dia nyusul, paling nggak aku udah mbaca meskipun baru satu halaman. Kalo di bawa pulang malah nggak sempet baca sama sekali, sekarang jam sembilan to? Pasti dia udah di kosku.
Anik : Eh, gimana kuliah kamu, kok kayaknya nyantai banget sih?......
(diam lama, Jali cuma tersenyum. Anik memandangi wajah Jali. tersenyum lalu...)
Anik : Eh.. Nggak kerasa ya. kayanya udah lamaaa benget kamu nggak ke kosku. Udah lamaaa banget nggak..... (Anik tak meneruskan kalimat nya, tapi mereka saling berpandangan, sambil menyimpan senyum masing-masing.)
Jali : (tersenyum) baru 4 bulan. abis kamu pake pindah kos segala, udah jauh, nggak boleh ada cowok nginep.
Anik : UUh maunya, ... kangen ya bobo di kosku.
Jali : Ah, udah ah, ngga usah mancing-mancing. kamu kan udah ada cowo baru, polisi lagi. Namanya siapa? Udhien ya?
Anik : Udhien, Bripka Udhien (dengan gaya centilnya, tapi tiba-tiba mrengut dan merengek manja..) sekarang dia di Aceh.. sampe bulan September.....
(Jali hanya
Jumat, 15 Mei 2009
MAYAT MAYAT CINTA
# 0
Mukaddimah
Lagu pembuka (Lagu 1)
# 1
Lampu temaram, diikuti spot besar di tengah panggung.
Tiba-tiba, seorang laki-laki kasar masuk dari sisi panggung sambil mencengkeram rambut & menyeret seorang perempuan cantik. Perempuan itu menangis, memperlihatkan kepedihan hatinya. Ia dihempaskan ke lantai dengan kasar. Musik masih mengalun mengiringi peristiwa ini...
Dursasana : “Menurutlah Drupadi, karena kau sudah milik kami! Kau adalah pelayan kami sekarang. Suamimu Yudhistira telah mempertaruhkan dirimu di arena perjudian ini. Dan ia telah kalah..!”
Drupadi : (Masih terduduk bersimpuh dan tersedu. Suaranya ditekan)
“Bagaimana mungkin Tuan-tuan membiarkan diriku dijadikan taruhan oleh orang yang telah kalah berjudi? Bukankah para penjudi adalah manusia-manusia jahat yang ahli tipu muslihat?! Suamiku telah menjadi budak karena kalah, dan ia bukan manusia bebas lagi. Karena-nya ia tak berhak lagi mempertaruhkan aku...”
Dursasana : “Sejak semula ia telah rela akan mempertaruhkan semua miliknya. Itu berarti bukan hanya harta benda, tetapi juga dirinya sendiri, saudara-saudaranya, termasuk kau, istrinya...!”
Drupadi : (Menghadap ke arah penonton, seolah ia menatap hadirin arena perjudian itu)
“Tuan-tuan yang terhormat, jika kalian memang mencintai dan meng-hormati kaum ibu yang telah
Mukaddimah
Lagu pembuka (Lagu 1)
# 1
Lampu temaram, diikuti spot besar di tengah panggung.
Tiba-tiba, seorang laki-laki kasar masuk dari sisi panggung sambil mencengkeram rambut & menyeret seorang perempuan cantik. Perempuan itu menangis, memperlihatkan kepedihan hatinya. Ia dihempaskan ke lantai dengan kasar. Musik masih mengalun mengiringi peristiwa ini...
Dursasana : “Menurutlah Drupadi, karena kau sudah milik kami! Kau adalah pelayan kami sekarang. Suamimu Yudhistira telah mempertaruhkan dirimu di arena perjudian ini. Dan ia telah kalah..!”
Drupadi : (Masih terduduk bersimpuh dan tersedu. Suaranya ditekan)
“Bagaimana mungkin Tuan-tuan membiarkan diriku dijadikan taruhan oleh orang yang telah kalah berjudi? Bukankah para penjudi adalah manusia-manusia jahat yang ahli tipu muslihat?! Suamiku telah menjadi budak karena kalah, dan ia bukan manusia bebas lagi. Karena-nya ia tak berhak lagi mempertaruhkan aku...”
Dursasana : “Sejak semula ia telah rela akan mempertaruhkan semua miliknya. Itu berarti bukan hanya harta benda, tetapi juga dirinya sendiri, saudara-saudaranya, termasuk kau, istrinya...!”
Drupadi : (Menghadap ke arah penonton, seolah ia menatap hadirin arena perjudian itu)
“Tuan-tuan yang terhormat, jika kalian memang mencintai dan meng-hormati kaum ibu yang telah
THE LIGHT OF KEN DEDES
Opening
Café
Band mengalunkan lagu lembut. Seorang wanita duduk sendiri di salah satu meja.
Lagu :
If I were you and you were me
And all the thing in life become so blue
And when the night is bright and days turns dark
So world will be so blue
The time is lost, and space is worse
The God may be seems blue
And my heart so blue
And your face is blue
Let me cry
Couse those tears also blue
Lampu temaram…
Wanita di Café : Kenapa harus aku. Aku tak tahu bahwa sinar di kelaminku ini ada artinya. Kupikir semua orang juga begitu. Kupikir karena semua orang begitu maka tak perlu dibicarakan lagi.
Aku masih ingat ketika kakekku mendongen baratayuda. Aswatama yang ingin membalas dendam kedamaian ayahnya resi Durna terpaksa menggali terowongan dalam tanah menuju ke keraton Amarta. Dia ditemani ibunya yang membuka kain hingga kelaminnya terbuka dan memancarkan sinar untuk menerangi dendam suci sang putra.
Kupikir itu tidak aneh.
Aku bahkan rajin membersihkan kelaminku ini, dan tak lupa mengelusnya setiap menjelang tidur dan pagi sebelum mandi. Waktu itu aku berjanji tak akan berhenti begitu setiap hari sebelum kelaminku bersinar seperti petromak. Setiap tengah malam kumatikan lampu kamar dan aku telanjang untuk menguji apakah vagina cantikku sudah mampu menerangi ruangan seperti
Café
Band mengalunkan lagu lembut. Seorang wanita duduk sendiri di salah satu meja.
Lagu :
If I were you and you were me
And all the thing in life become so blue
And when the night is bright and days turns dark
So world will be so blue
The time is lost, and space is worse
The God may be seems blue
And my heart so blue
And your face is blue
Let me cry
Couse those tears also blue
Lampu temaram…
Wanita di Café : Kenapa harus aku. Aku tak tahu bahwa sinar di kelaminku ini ada artinya. Kupikir semua orang juga begitu. Kupikir karena semua orang begitu maka tak perlu dibicarakan lagi.
Aku masih ingat ketika kakekku mendongen baratayuda. Aswatama yang ingin membalas dendam kedamaian ayahnya resi Durna terpaksa menggali terowongan dalam tanah menuju ke keraton Amarta. Dia ditemani ibunya yang membuka kain hingga kelaminnya terbuka dan memancarkan sinar untuk menerangi dendam suci sang putra.
Kupikir itu tidak aneh.
Aku bahkan rajin membersihkan kelaminku ini, dan tak lupa mengelusnya setiap menjelang tidur dan pagi sebelum mandi. Waktu itu aku berjanji tak akan berhenti begitu setiap hari sebelum kelaminku bersinar seperti petromak. Setiap tengah malam kumatikan lampu kamar dan aku telanjang untuk menguji apakah vagina cantikku sudah mampu menerangi ruangan seperti
Langganan:
Postingan (Atom)